Akuyaku Reijo Ni Koi Wo Shite Chapter 4 Bahasa Indonesia

Bab 4: Hari Pertama Sebagai Pelayan


Pelayan penuh (full-time) Vincent, putra tertua dari Keluarga Marquess Windhill.

Itu adalah pekerjaan yang diberikan padaku.

Adapun alasan mengapa berbagai hal berubah menjadi seperti ini, tidak peduli berapa banyak aku memikirkannya aku tidak bisa mengerti dengan sebuah penjelasan.

Tidak dapat membantu, aku harus bertanya pada orang yang aku benci untuk  mendengarkannya.

Erm…

Apa? Apa ada sesuatu yang tidak kau mengerti?


Berbeda dengan tempramennya beberapa waktu yang lalu, orang itu menatapku dengan lembut. Yang berarti karena telah melepaskan tugasnya sebagai pelayan Vincent membuatnya sangat senang.

Bagaimana bisa keadaannya menjadi seperti ini? Tujuan dari pembicaraan saat itu untuk mengusirku dari rumah ini, bukan?

Oh, itu? Fokus saja pada masalah pekerjaanmu! Aku ingin menyelesaikannya lalu menyerahkannya padamu secepatnya.

Erm... Baiklah, aku hanya bertanya-tanya.

Kukira tidak ada pilihan lain. Pertama, memang seperti itu. Tidak mungkin kami bisa mempercayai siapapun dari daerah kumuh. Ketika seseorang berhutang budi pada orang-orang semacam itu, mereka menganggap orang itu sebagai sumber pendapatan semata.

Yah, meskipun aku datang dari sana sendiri, aku setuju tidak ada apa-apa di sana selain orang semacam itu yang tinggal di pemukiman kumuh.

Meskipun permintaannya biasanya sepele, ini adalah keluarga Marquess, kami tidak boleh tampak lemah. Jadi ketika mereka bersikeras untuk kembali, kita harus menyingkirkannya. Dan jika kami menduga hal-hal mengarah ke situ, tindakan terbaik adalah menyingkirkan masalahnya dari awal. Begitulah adanya.

Meskipun orang ini membicarakan itu dengan lancarnya, apa yang dia jelaskan adalah pembunuhan.

Aku berpikir untuk bertanya apakah itu tidak akan menimbulkan masalah, tapi kukira itu bukanlah sesuatu yang harus kutanyakan.

Bagaimana perkembangannya di sana sehingga aku menjadi Pelayan tuan muda?

Sebenarnya, membuangmu sudah tidak lagi menjadi pilihan sejak kau melangkah ke kamar Ariel-sama. Tuan dan istrinya jauh lebih lembut padanya dibandingkan dengan Vincent-sama.

Dengan kata lain, mereka orang tua yang penyayang.

Aku tidak benar-benar mencoba menertawakan mereka dengan berpikir begitu. Bagi seseorang sepertiku, yang kehilangan orang tuanya, itu adalah sesuatu yang membuat iri.


Jika memang begitu, kenapa dengan interogasi tadi?

Aku menentangnya. Karena menjadi pelayan Vincent-sama telah terbukti sulit, aku tidak berpikir aku bisa berurusan dengan anak yatim piatu dari daerah kumuh di atas itu.

Betapa beraninya dia berkata begitu saat bertatapan dengan orang yang dimaksud. Seperi yang kupikir, ada sesuatu yang salah dengan pria ini sebagai manusia. Anggapanku pasti benar.

Maafkan aku karena bersikap tidak sopan, tapi apakah kau punya wewenang seperti itu dalam peranmu?

Seoarang pelayan penuh itu juga seorang kepala pelayan dan bahkan bisa menjadi salah satu pembantu untuk kepala keluarga. Seseorang yang memiliki banyak hubungan dengan Vincent-sama, hak mereka untuk berbicara akan diakui.

Eh? Posisi semacam itu, bagiku...

Bukan kau. Selama akal sehat yang akan menentukan, ini akan mustahil untuk seseorang dengan asal-usul yang meragukan untuk menjadi pembantu dekat Marquess.

Orang ini, ada batasan untuk tidak peka.

Bagaimana dia berhasil menjadi seorang pelayan waris Marquess?

... Kalau dipikir-pikir, siapa namamu?

Will. Will Dirk.

Dirk-san…

”Dirk-san”? Panggil aku Will-san.

Jadi memanggilnya dengan nama yang diberikan adalah cara yang benar. Aku harus menyimpan hal-hal sederhana seperti itu dalam pikiranku dengan hati-hati.

Apa memanggilmu dengan “Will-san” benar-benar tak apa? Kita akan menjadi rekan kerja di masa depan...

Itu..., Lupakan itu. Aku benci formalitas seperti itu.

Begitukah?

Dia jelas-jelas berbohong, namun aku tidak benar-benar menekankan intinya.

Ada yang mencurigakan.

Orang ini sebaliknya tidak akan pernah berada dalam suasana hati yang baik, tapi aku harus bisa mencari tahu apa yang terjadi setelah bekerja di rumah ini untuk sementara waktu.

Mari kita lanjutkan. Pada tingkat ini, kita tidak akan pernah melakukan proses serah terima.

Untuk ringkasan pekerjaannya, Pelayan adalah orang yang bertanggung jawab atas berbagai macam urusan yang bertujuan memenuhi semua keinginan tuannya. Itu yang dikatakan padaku tapi, ada sesuatu yang tidak beres.

Aku hanya tidak bisa membayangkan Will bisa memenuhi semua keinginan anak laki-laki yang egois itu.

Meski dia menyebutnya penyerahan, itu sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang kubayangkan. Yang dia ajarkan padaku adalah jadwal Vincent untuk bulan itu.

Selain itu, ada pilihan makanannya.

Kesukaan dan ketidaksukaan pada subjek pelajaran, tapi sepertinya dia sama sekali tidak menyukai apa-apa.

Keahlian sihirnya... itu bahkan tidak layak dibicarakan.

Sikapnya pada orang-orang...

Kenapa Will tidak dalam daftar? Pastinya, dia tentu sudah dibenci olehnya.

Bagaimanapun, tidak ada apa-apa mengenai pekerjaan itu sendiri.

Meski aku telah mendengar kabar yang mengkhawatirkan tentang Vincent, Will menyingkirkan topik tersebut dengan mengatakan bahwa dia hanya egois. (Inggrisnya persistent: keras hati)

Sama seperti yang diharapkan dari Pelayan, penyerahan itu selesai dalam sekejap dan kemudian si bajingan itu segera melarikan diri.

Yang tertinggal, aku dan Vincent, mulai memilih pakaian yang akan kugunakan.

Kalau dipikir-pikir, aku hanya mengenakan pakaian tidur selama ini. Anak laki-laki itu menyiapkan beberapa set pakaian pelayan, tapi tidak ada yang sesuai denganku.

Itu tampak seperti aku punya tubuh yang luar biasa kecil... Yah, aku bahkan tidak tahu usiaku.

Mungkin alasan kenapa tidak ada yang sesuai, itu karena aku belum mencapai usia yang pantas untuk pekerjaan itu. Untuk menggantinya, kami mencoba beberapa pilihan pakaian yang telah dia pakai.

Bagaimana dengan yang ini?

... Saya pikir itu terlalu mencolok untuk seorang pelayan.

Bahkan yang ini? Yah, kau mungkin benar. Pakaian pelayan harus terlihat buram.

Vincent sepertinya mempunyai pikiran yang kasar, tapi anak ini, yang memikirkan bagaimana seharusnya pakaianku, sangat egois.

Ketika memilih yang terbaik dan terutama didasarkan pada ide tersebut, bahwa pakaian pelayannya harus tampak pantas.

Namun, selera anak ini dalam pakaian benar-benar menyedihkan

Meskipun itu mungkin pantas di dunia ini, bagiku itu hanya setumpuk pakaian yang tidak akan pernah sanggup untuk kupakai. Tidak peduli apapun yang kucoba, aku tidak dapat menemukan sesuatu yang bisa ku setujui.

Akhirnya, ketika aku berpikir untuk menyerah, aku menemukan sebuah jas di sudut lemari yang lebih besar dari kamarku. Itu berbeda dengan yang biasanya, hitam monokromatik*, dan memberi perasaan tenang. [Yang Cuma terdiri atas satu warna. Contoh: merah, kuning, hijau dilang-]

Apa yang ini tidak apa-apa?

Hmm?

Anak itu mengalihkan perhatiannya pada pakaian yang kutunjukkan. Ekspresi wajahnya menjadi suram. Sepertinya dia tidak menyukainya.

Ini pakaian ksatria.

Pakaian ksatria?

Para ksatria memakai pakaian seperti ini.

Tidak, saya mengerti itu. Apakah itu menimbulkan masalah?

Kau akan menjadi pelayan, bukan ksatria.

...Ah, itu benar.

Sikap keras kepala ini mungkin terbukti lebih sulit daripada yang kubayangkan. Namun, aku tidak bisa membiarkannya saat ini karena aku lebih baik mati daripada mengenakan baju berenda dan celana pendek.

Namun, saya adalah pelayan Vincent-sama, jadi bukankah akan ada saat di mana saya harus melindungi anda?

...Itu benar.

Seseorang, yang melindungi tuannya, itu tidak berbeda dengan seorang ksatria. Meskipun tugasnya mungkin berbeda, sejauh tugas berjalan, mereka tetap sama.

…Mhm.

Itulah sebabnya untuk orang yang diberi tugas sebagai pelayan penuh (full-time), mengenakan pakaian seorang ksatria seharusnya tidak menimbulkan masalah.

...Itu seharusnya tak apa. Baiklah, mari gunakan ini sebagai seragammu.

Terima kasih.

Bujukan berhasil! Aku segera membelakangi lemari dan mengganti pakaianku.

Meskipun aku sudah mendengar kalau pakaian itu yang dipakai ksatria, rasanya seperti gakuran yang diubah dengan kerah yang lebih tinggi dan mantel yang sedikit lebih panjang. [Gakuran, seragam pria SMA Jepang.]

Setelah memakainya dan memeriksa hasilnya di cermin, tampaknya pas untukku lebih dari yang kuharapkan.

Hal itu mengarah pada pertanyaan kenapa hanya set pakaian seperti ini? Apakah itu perbedaannya antara pakaian ksatria dan aristokrat?

Sementara aku sibuk dengan pikiran itu, anak itu keluar dari lemari dan menatapku takjub.

...Apakah terlihat aneh?

Tidak, justru sebaliknya. Setelan ini cocok untukmu.

Saya bersyukur. Itu karena pakaian ksatria ini terlihat bagus.

...Kau terlihat seperti ksatria hitam.

Ya?

Kau tidak mengetahuinya? Itu adalah protagonis dalam buku yang kubaca semenjak kecil. Rambut dan mata hitam, pakaian yang dikenakannya juga berwarna sama. Dia seorang pahlawan yang datang dari dunia lain dulu kala. Pakaianmu dibuat untuk meniru yang dikenakan ksatria hitam pada ilustrasi di dalam buku itu.

Saya mengerti.

Aku ingin tahu apakah orang itu orang Jepang. Jika memang begitu, aku bukanlah satu-satunya di dunia ini yang datang dari dunia lain. Tapi biarpun begitu, jika itu memang benar-benar orang Jepang yang berambut dan bermata hitam maka cara dia dikirim ke dunia ini berbeda denganku.

Tampaknya ini adalah semacam dunia yang “segala sesuatunya berjalan”. [Idiom mengenai ‘Segala sesuatunya diterima atau dapat diterima; tidak ada larangan.]

Apakah kau tahu bagaimana menggunakan pedang?

Tidak terlalu...

Bagitukah? Maka kau akan belajar denganku.

Eh?

Apa kau tidak tahu jadwalnya?

Tidak, saya tahu. Anda berlatih anggar tiga kali seminggu. Apakah mengenai itu?

Aku mengetahui bahwa dunia ini memiliki enam hari dalam seminggu saat aku diajari jadwal Vincent. Hari-harinya terkait dengan unsur-unsur seperti di Jepang, tapi tidak ada yang sama dengan hari Jumat, dan Kamis adalah hari angin.
[Kata guru saya, Minggu matahari, Senin bulan, selasa   api, Rabu air, Kamis pohon, Jumat emas, Sabtu tanah.]

Hari-harinya terdiri Matahari, Bulan, dan empat elemen. Sanggat mudah dipahami.

Kau akan mengikuti latihan anggar itu.

Bukankah aku hanya mengganggu?

Aku akan sangat senang bisa diajari pedang. Namun, aku bisa ikut atau tidak, bukanlah keputusanku.

Ini untuk melindungiku dengan baik jadi tentu saja kau harus mengasah keahlian berpedangmu.

Itu adalah pemikiranku sejak awal. Yah, baiklah kalau begitu.

Saya mengerti. Saya akan melakukan apa yang anda katakan.

Dengan ini, aku juga bisa mengikuti latihan anggar, tapi masalah berpedangnya belum terselesaikan.

◇◇◇

Mempelajari jadwalnya, kesanku terhadap anak itu berubah.

Bagaimanapun juga itu jadwal yang cukup sibuk.

Setiap hari, dia diajari mata pelajaran akademis oleh pengajar berpengaruh sepanjang pagi dan sihir saat siang hari. Sorenya diikuti dengan kelas anggar separuh seminggunya dan belajar kecakapan sosial seperti etiket separuh lainnya.



Seluruh harinya dipenuhi dengan belajar.

Ketika aku pertama kali melihat jadwalnya, aku berpikir kalau itu seharusnya benar-benar sibuk karena dia adalah pewaris Keluarga. Namun, saat menyaksikan kelasnya, aku dipenuhi dengan perasaan simpati.

Aku tidak mengerti, karena cara mengajarmu yang buruk.

Saya mohon maaf untuk itu, tapi jika orang yang saya ajari tidak tertarik untuk belajar, maka tidak ada yang bisa saya lakukan.

Apa kau berkata kalau aku yang salah?

Saya hanya mengatakan kalau kita berdua harus berusaha lebih keras.

Anak dengan nilai yang buruk itu hanya mengalihkan kesalahan pada pengajarnya. Pengajar itu melemparkannya kembali.

Namanya Harvey Moore dan dia sedikit berbeda dengan pelayang lainnya.

Aku segera mengetahui alasannya.

Meskipun dia seorang pengajar, dia mampu melakukan banyak pekerjaan lain, jadi keluarga ini enggan memecatnya. Ini sebabnya dia bisa bersikap dengan cara yang lebih bebas daripada orang-orang yang berasal dari keluarga pembantu yang mapan.

Apakah itu caranya berbicara kasar?

Hanya dengan melihat pelajarannya, orang akan mengerti.

Karena mengajari anak itu sendiri memang sulit.

Sepertinya Vincent benar-benar idiot.

Aku berusaha keras.

Apakah itu yang sebenarnya?

Apa?

Jika anda mendengarkan saya dengan benar, anda akan bisa mengerti apa yang saya ajarkan saat ini. Karena tak mampu melakukannya berarti anda tidak memperhatikan.

...Itu tidak benar sama sekali!

Sayangnya, begitulah adanya.

Kenapa kau mengatakan begitu?

Karena bahkan orang yang duduk di ujung ruangan bisa memahaminya.

Apa!?

Eh?

Ini merupakan perkembangan yang buruk di sini.

Aku ingin mereka berhenti mengalihkan pembicaraannya padaku.

Aku memang mengerti, namun, bukan karena aku mendengarkan dengan saksama tapi karena aku sudah diajarkan pelajaran ini sejak lama.

Apa itu benar?

Itu...

Tidak menjawab adalah jawabannya sendiri. Dia melakukannya karena mempertimbangkan Vincent-sama.

Pengajar itu lebih memojokkanku ke sudut lagi. Apa sih yang dia rencanakan?

...Kalau begitu. Rion. Lihatlah masalah ini.

Ah tidak, itu...

Jika kau tidak menyelesaikannya, kau akan dihukum serta kehilangan makan malam.

Vincent menganggap masalah ini serius. Cobaan berat ini berubah menjadi pilihan antara emburu atau tidak makan malam.

Saya mengerti.

Aku tidak bisa menang melawan nafsu makanku.

Sembari duduk di kursi aku menilai masalah yang kuhadapi. Ini tentang perkalian dan pembagian pecahan. Seperti yang kuduga, aku bisa menjawab sebanyak ini.

Aku mengambil pena yang lebih sulit digunakan daripada menyelesaikan masalah itu sendiri. Aku tidak terbiasa dengan pena yang perlu mencelupkan tinta setiap saat tapi aku dapat menulis penyelesaiannya meski huruf yang dihasilkan berantakan.

...Apa kau pernah mengambil kelas aritmatika?

Hanya sedikit, dari orang tua saya.

Tapi kudengar kau seorang yatim piatu?

Aku diajari sebelum mereka meninggal.

...Penghuni pemukiman kumuh mengajari anak-anak mereka?

Saya tidak tahu apakah ini lazim atau tidak. Saya hanya bisa mengingat hal-hal yang menurut saya berguna untuk keluar dari daerah kumuh.

Yah itu bisa dibenarkan. Bagaimanapun, untuk berpikir kalau kau bisa melakukan mental aritmatika...[Mental aritmatika: Sempoa]

Sepertinya aku sudah benar-benar melakukannya sekarang. Perkalian dan pembagian pecahan hanyalah masalah sederhana, namun, aku memiliki banyak hal yang dilebihkan dengan memecahkannya dengan mental aritmatika.

Seharusnya aku tidak menyelesaikannya dengan mempertimbangkan tingkat pendidikan dunia ini... Bukan, mempertimbangkan usiaku yang jelas.

Dan reaksi Vincent...

Seperti yang diharapkan dari pelayanku. Baiklah, kau harus belajar denganku mulai dari sekarang. Guru, ini tak apa, kan? (Pekerjaan Ryou itu pelayan penuh (full-time) yang selalu nempel sama tuannya. Saya tidak tau mau ngartiin bagaimana jadi mulai saat ini saya memakai pelayan saja.)

Eee, tentu saja.

Bahkan tidak disertai dengan perasaan iri, dia sebenarnya senang dengan hal itu.

Apa dia orang bodoh atau bijak, aku tidak mengerti lagi dengannya.

Namun, yang pasti, itu terlalu dini untuk menuliskannya sebagai seorang anak yang egois.

◇◇◇

Setelah makan siang selesai, ini saatnya untuk kelas sore.

Kali ini, adalah anggar. Orang yang mengajari kami adalah kapten pasukan ksatria Marquess di ibukota, Eric Marvin. Karena posisiku juga seorang murid dan Vincent seorang yang keras kepala tentang hal itu, dia menyuruhku untuk memanggil Eric “shishou” dan bukan “kapten ksatria”. [Shishou: Guru, Master]

Karena ini anggar, seperti yang diduga itu tidak akan menghasilkan hal yang sama seperti apa yang terjadi pada aritmatika.

Aku telah berlatih baik anggar maupun kendo dan itu sudah diputuskan apa yang pemula sepertiku harus lakukan pada awalnya.

Berlatih mengayun, tak lain hanyalah latihan mengayun.

Marvin-shishou, yang berada di sisi anak itu, menatap Vincent yang sepenuh hati mengayunkan pedangnya.

Itu adalah cara melewati hal yang disebut latihan mengayun.

Gerakan kaki, gerakan pergelangan kaki dan lututnya, penyesuaian pusat gravitasinya dengan menggerakan pinggul dan punggung bawahnya, ayunan lengannya yang halus dalam satu nafas tanpa perlawanan.

Aku disuruh melakukan hal yang sama tapi, aku tidak bisa mengerti apa yang apalagi melakukan gerakannya. Shishou menjelaskan bahwa cara yang tepat menggayunkan pedang membutuhkan penggunaan tidak hanya lengan tapi seluruh tubuhmu.

Mengingat hal itu, aku berlatih mengayun sambil sadar akan gerakan tubuhku.

Aku terus-menerus melakukan itu sepanjang waktu. Atau bagitulah apa yang ingin kukatakan, tapi aku saat itu belum bisa mempertahankannya.

Saat kehabisan nafas, aku tidak bisa mengangkat tangan lagi. Aku mengerti batas staminaku dengan pelajaran anggar ini. Aku perlu menciptakan waktu untuk melatih daya tahanku.

Seperti in, aku bisa merumuskan jadwalku sendiri sedikit demi sedikit.

◇◇◇

Setelah pelajaran anggar, ini waktunya untuk tidur siang. (Padahal waktunya menunjukkan kelas anggar ‘sore hari’, tapi setelah latihan anggar malah tidur siang. Entahlah)

Tentu saja, itu jadwal Vincent, seseorang sepertiku tidak akan diberi istirahat.

Karena mengatakan itu, seseorang sepertiku yang baru saja menjadi pelayan tidak ada yang dilakukan dengan waktu luangnya dan, seolah-olah dia mengantisipasi hal itu, ojou-sama sampai.

Rion, kau bebas, apa aku benar?

Ya, nona. (Bab kemarin saya menggunakan tuan putri, sekarang saya akan menggunakan nona)

Kalau begitu, temani aku.

Ke mana?

Kelasku dimulai sekarang. Kau seharusnya belajar denganku juga.

...Mengerti.

Meskipun aku tidak tahu apa mata pelajarannya, meskipun begitu belajar merupakan hal yang baik. Tidak peduli seberapa inginnya aku belajar di dunia lamaku, aku tidak dapat melakukannya. Aku yang lain tidak pernah bisa belajar.

Terlahir miskin merampok adalah salah satu kemungkinannya.

Aku segera ingat ungkapan itu.

Mayers-sensei, aku membawa Rion bersamaku.

Ohh, jadi itu orangnya.

Seolah-olah dia telah menolak sebelumnya, Mayers-sensei jelas tidak begitu senang dengan kedatanganku. Mengeluarkan getaran yang ketat, dia tampak sangat pas untuk pekerjaannya sebagai pengajar putri bangsawan. Dia benar-benar sesuai dengan apa yang kubayangkan tentangnya meskipun itu adalah bayangan yang kuimpikan secara egois.

Kalau begitu sensei, saya mohon bimbingannya.

Tentu, Ariel-sama. Saya mohon bimbingannya juga.

...Ada apa dengan pandangan itu?

Saat aku berdiri kaku karena terkejut sebab penerapan sopan santunnya yang tiba-tiba, ojou-sama menatapku dengan perasaan tidak senang.

Sekarang inilah Ariel yang biasa memperlakukanku.

Ariel-sama, bukankah tingkah laku itu tidak pantas?

.... Astaga, aku telah menunjukkan sisi memalukanku. Saya akan lebih berhati-hati mulai dari sekarang.

Lagi, berubah menjadi kesopanan... yang tak terduga.

Erm, bolehkah saya tahu apa mata pelajaran kelas ini?

Bukankah seperti yang telihat? Ini pelajaran etiket.

Etiket? Apakah saya berpartisipasi juga?

Kamu bukan hanya pelayan onii-sama tapi juga ku... ku...(Inggrisnya: my... my...)

Sepertinya dia memutuskan akan sulit memanggilku peliharan di depan pengajar tatakramanya.

Bagaimanapun juga, karena kamu sekarang orang dari rumah ini kamu harus belajar cukup tatakrama untuk menghindari rasa malu di depan umum.

Namun, saya hanyalah seorang pelayan...

Bahkan jika kamu hanya seorang pelayan, kamu pasti akan menjadi seseorang yang akan selalu mengikuti usaha onii-sama dan terkadang juga aku. Apakah kamu berniat membuat malu bagi kita saat itu tiba?

Tidak, nona.

Maka kamu harus belajar etiket yang pantas.

Mengerti...

Sulit untuk melawan gadis ini bahkan bagi seseorang sepertiku dengan usia mentalku yang lebih tua. Apakah itu karena martabat yang dilahirkan oleh para bangsawan?

Bagaimanapun Vincent tidak mengeluarkan perasaan seperti itu.

Kalau begitu, hari ini kita mulai dengan pelajaran dansa, bukan?

Ya?

Itulah mengapa aku memanggilmu. Aku memerlukan pasangan latihan untuk dipasangkan, kamu tahu?

Nona, saya tidak tahu apa-apa tentang dansa.

Meskipun aku teringat menari saat sekolah dasar, sangat berbeda dengan cara melakukannya di sini.

Itu tak apa. Lagi pula, ini juga pertama kalinya untukku. Kalau begitu sensei, mari kita mulai.

Pada akhirnya, aku harus menemaninya di atas lantai dansa selama satu jam. Untungnya, itu adalah kelas dansa pertama dan langkah-langkahnya cukup mudah.

Steps, berpikir kalau aku dapat menggunakan kata ini dengan mudah. [Inggris. Arti: Langkah]

Setelah itu, aku juga harus ikut dengannya pada pelajaran tatakrama.

Yah, kupikir itu baik-baik saja.

Namun, apakah ini benar-benar bagian dari tugasku sebagai pelayan?

◇◇◇

Setelah kelas etiket Ariel berakhir aku kembali ke ruangan Vincent.

Pelajaran selanjutnya sesuai jadwal adalah pelajaran sihirnya. 

Ini adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kupelajari.

Aku berdiri di sudut ruangan agar tidak mengganggu anak itu yang sedang memusatkan pertahatiannya untuk memahami mana-nya, sama seperti yang pengajar sihir perintahkan.

Meskipun ini adalah kelas sihir, sepertinya dia tidak akan benar-benar menggunakan sihir dalam pelajaran hari ini.

Menurut pengajar itu, bagian yang paling penting adalah dapat memahami dan mengendalikan mana milikmu dengan benar. Untuk menggunakan sihir, seseorang harus bisa mengedarkan kekuatan dengan benar dan menentukan jumlah yang tepat untuk mantra.

Menguasai manipulasi mana ini akan meningkatkan ketepatan dan efektivitas sihir seseorang.

Pada saat ini Vincent sedang berlatih keterampilan itu.

Dia dengan pelan menggumamkan mantra aria sesekali.

Sepertinya proses pelemparan mantra terbagi menjadi tiga tahap, perapalan sihir menjadi tahap yang pertama dan perwujudan mana yang ada di dalam tubuh seseorang yang kedua.

Tampaknya proses ini tidak berubah terlepas dari elemen apa yang dimiliki seseorang tapi karena detilnya sangat bergantung pada pandangan pikiran seseorang, hasilnya akan tersusun sendiri sesuai dengan gambaran mental itu.

Dengan kata lain, tujuan aria adalah untuk membuat gambaran mental lebih mudah pada individu. Dengan latihan yang cukup, seharusnya seseorang dapat menggunakan mantra pahkan tanpa merapal.

“Aku akan memberikan sihir atasmu”

Ini kedua kalinya aku mendengar ucapan itu.

Alaminya, ini akan mengubah keefektifan sihir. Untuk beberapa alasan, itu mempengaruhi peredaran mana di dalam tubuh seseorang.

Tapi aku merasa ada sesuatu yang salah.

Peredaran yang sebenarnya tidak mengikuti gambaran mentalku.

“Terberkatilah angin, datang dan sembuhkanlah!”

Pada tahap ketiga, elemen yang digunakan harus ditetapkan. Dalam hal ini, setelah perapalan mana dengan atribut angin itu berubah menjadi sihir penyembuh. Sensei mengatakan itu kemudian akan mengeluarkan mana yang berada di dalam tubuh seseorang dan kehendak dunia akan bertindak seseuai dengan itu... Tapi di mana tepatnya dunia mengambil tindakan?

Itu tidak ada di bagian perapalan aria maupun bagian perwujudan mana. Pengetahuan dunia lamaku mengenai genre fantasi menunjukkan kalau penjelasan ini entah bagaimana mencampurkankan spirit dan sihir elemen.

Yah, pengetahuan itu cukup sederhana.

Mungkin sebaiknya aku membaca lebih banyak novel ringan sebelumnya.

Kehendak dunia dan empat atribut, jika itu adalah spirit kemudian apakah mereka terwujud ketika seseorang menggunakan sihir? Aku melihat sekeliling tanpa henti tapi tidak ada jejaknya.

Mungkin itu benat-benar mustahil bagiku untuk menggunakan sihir.

Jika itu permasalahannya aku hanya bisa meningkatkan ketrampilan bertarungku memalui pedang. Aku tidak bisa tetap seperti ini selamanya jadi aku mulai fokus pada masa depanku.

Aku putuskan untuk tidak peduli lagi dengan apa yang orang-orang katakan. Aku harus dengan benar mendapatkan kekuatan yang kubutuhkan untuk hidup di dunia ini.

Aku akan menempatkan seluruh kekuatanku ke dalam pelatihan, dengan penggunaan yang sama dengan karakter utama kisah fantasi tersebut.

Aku bersumpah dari dalam lubuk hatiku.



Catatan:
Bagi yang bingung perbedaan tatakrama dan etiket seperti saya pada awalnya, saya jelaskan.
Etiket (Bahasa Perancis; etiquette): suatu sikap seperti sopan santun atau aturan lainnya yang mengatur hubungan antara kelompok manusia yang beradab dalam pergaulan. Wiki.
Tatakrama: Adat sopan santun (kebiasaan), basa basi. KBBI.


Tapi bukankah itu sama saja? Asudahlah. Nyahahaha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar